Terakhir aku membuat cerpen, kalo gak salah, kalo gak salah ya, pas SMP kelas 2. Aku baru saja ditugaskan untuk membuat sebuah cerpen oleh guru Bahasa Indonesiaku.
Yok, baca aja :)
Dilema
Oleh: Dinda Ayu Rahmi
Dinar tertidur pulas dengan jaket pink-nya yang sedikit menutupi wajahnya di tempat duduk di sisiku. Melihatnya tidur membuatku ingin tidur juga. Meskipun aku tahu posisiku dan Dinar strategis, tapi aku nggak seberani Dinar.Tiba-tiba mataku tertuju pada sesuatu yang familiar, oiya tadi aku lihat sesuatu yang Dinar pegang ketika di taman. sebuah buku yang memiliki panjang kurang lebih 15 cm, lebar tidak lebih dari 10 cm dengan tebal 1 cm. Terletak di kolong meja Dinar. Dihiasi dengan kolase sederhana buatan Dinar, terlihat origami-origami yang tertempel secara acak dan itu membuatku penasaran. Perlahan kutarik buku itu dari kolong Dinar.
Kupegang cover-nya, kubuka beberapa halaman. Oh tidak, ternyata ini buku harian Dinar, privacy. Aku ingat pesan mamaku bahwa kita tuh nggak boleh mengganggu privacy orang, nggak boleh mau tahu rahasia orang, dan sebagainya. Tapi aku sudah terlanjur kepo –sangat ingin tahu, aku membaca halaman demi halaman buku harian Dinar.
Nyess. Ada satu halaman yang membuatku tiba-tiba lemas. Satu halaman yang memberitahukan segala tentang kecengan Dinar. Hadi, seseorang yang baru saja aku terima cintanya semalam.
Dinar, mengapa kamu tidak pernah cerita padaku? Entah aku harus sedih atau kesal. Yang jelas aku galau. Seorang Runi dapat galau, It’s a miracle.
***
Jam istirahat, aku memesan nasi goreng kesukaanku di stand makanan berat. Kulihat stand aneka jus dari sini, ada Hadi menghampiri Dinar yang sedang bersama Viona. Terlihat gaya cool Hadi yang menyimpan penuh karisma –oke aku berhasil terpincut olehnya. Hm, tapi kok Dinar aneh ya? Terlihat sekali dia salting, aku sebagai sahabatnya jelas sekali menyadari bahwa Dinar menyimpan hati untuk Hadi, apalagi ditambah bukti dari sesuatu yang ditulis di diary milik Dinar. Ah.
Rencananya aku ingin memberitahu Dinar tentang hubunganku dengan Hadi. Tapi bagaimana caranya?
“Rahasia ya rahasia, kalau kamu bingung bagaimana mengatakannya ya jangan katakan. Apalagi jika itu bisa menyakitkan” Ujar Hadi padaku. Jadi begini ceritanya, aku cerita pada Hadi bahwa aku menyembunyikan sesuatu dari sahabatku dan begitu juga sebaliknya, aku juga cerita bahwa aku tidak sengaja mengetahui rahasia sahabatku dan itu membuatku bingung bagaimana menceritakan rahasiaku pada sahabatku agar perasaannya tak terlukai.
“Tetap saja aku bingung, karena pasti sahabatku itu akan tahu dengan sendirinya apa yang aku sembunyikan, dan apabila aku terlambat memberitahunya, itu akan lebih menyakitinya.” Hadi terdiam. Kulihat dia bingung, aku juga tidak heran sih karena aku juga menolak untuk menceritakan secara lengkap tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Jika dia benar-benar sahabatmu, dia akan memaafkanmu. Yasudah kalau begitu, jujur saja dari sekarang, apapun yang kamu sembunyikan darinya.” Jawab Hadi dan kali ini jawabannya sangat aku pikirkan, benar-benar aku pertimbangkan. Benar, jika Dinar adalah sahabatku, dia akan memaafkan aku.
***
Aku sangat tidak bisa berkonsentrasi pada materi yang diajarkan di les Bahasa Perancis hari ini. Wajahku yang menyimpan berjuta kegalauan sangat bertolak belakang dengan Dinar yang sedang berbunga-bunga.
Let me guess, Dinar terlihat senang karena dia sekelompok dengan Hadi pada tugas Sosiologi, dan mereka berencana untuk mengerjakan tugasnya berdua. Berdua, kutekankan sekali lagi. Ah, mungkin aku adalah sahabat terjahat di dunia. Bisa-bisanya aku menghancurkan kebahagiaan Dinar. Ya, tetapi kejujuran harus diungkapkan, betapapun menyakitkannya itu.
Le Bistrot, we’re here now. Aku dan Dinar mengambil tempat duduk dan memesan makanan dan minuman khas Perancis. Kebingungan melandaku seketika, aku bingung harus memulai darimana. Oke, bagaimana kalau aku menganggap bahwa diriku tidak tahu bahwa Dinar menyukai Hadi? Hm, boleh tuh. Berpura-pura saja aku belum tahu rahasianya, anggap saja aku tidak pernah mengintip buku harian Dinar.
***
Banyak yang bilang, masa SMA itu masa-masa yang paling berwarna dan menyimpan memori. Banyak sekali hal yang menyenangkan maupun menyedihkan yang tak akan terlupakan selama masa SMA. Yah, kebanyakan pasti tentang percintaan, dan persahabatan.Seumur hidup aku sama sekali belum pernah merasakan yang namanya berpacaran. Dulu aku berfikir, “Apa sih asyiknya? Memangnya bermanfaat? Paling cuma buang-buang duit saja.” Ya, itu komentarku dulu, waktu masih polos dan belum ‘begér’, itulah istilah anak-anak Kota Bandung untuk mendeskripsikan seseorang yang baru menginjak kedewasaan. Istilah Islamnya mah ‘baligh’.
Teman-temanku banyak yang mengira bahwa aku tidak normal –aku mempunyai kebiasaan aneh, yaitu memeluk dan mencium teman-teman perempuanku sehingga mereka terkadang risih. Aduh, gawat sekali kalau aku dikira lesbi.
***
“Dor!” Sahabatku Runi mengagetkanku ketika aku sedang iseng menyendiri untuk mengisi diary di bangku taman dekat kelas. Refleks aku berhenti menulis dan menutup bukuku. “Hei, ngapain kamu disini?” tanyaku padanya sebab jarang sekali ada yang mendatangiku ketika aku sedang menyendiri begini.
Pada akhirnya, aku pasrah saja ada orang yang mengganggu kesendirianku. Aku dan Runi akhirnya mengobrol, sampai akhirnya bel sekolah yang berdering memaksa kami untuk segera masuk ke kelas. Ya, meskipun aku tahu guru-guru yang seharusnya mengisi jam pertama, pasti –ya pasti, telat.
Di kelas, tak ada guru. Suatu hal sederhana yang dapat menjadi alasan semua kebisingan di kelas. Anak-anak ceweknya ada yang sibuk menyalin pekerjaan rumah dan mengobrol tentang girls’ stuffs. Sedangkan anak laki-lakinya ada yang bermain game, bermain poker, dan juga bermain gitar. Tapi diantara sembilan belas anak tersebut, hanya satu orang yang eye-catching buatku. Yaitu seseorang anak cowok yang sedang antengnya membaca buku. Buku apa ya? Tak tahu deh, tapi sepertinya buku pelajaran.
Dan kini aku bete. Guru yang kuharapkan tidak masuk, masuk. Aku bergegas ke tempat dudukku yang terletak di dua baris paling belakang bersama Runi. Berhubung ini adalah pelajaran yang membosankan, ayo kita tidur. Kuambil jaket pink milikku yang tak sengaja kubawa di tas, kemudian meletakkannya di atas meja. Kujadikan jaket itu sebagai bantalku. Hoam.
***
Tidur pada dua jam pelajaran –tepatnya sembilan puluh menit lamanya, sangat memuaskan. Kini aku siap menghadapi pelajaran Fisika yang akan banyak menguras otak. Hm, pemandangan yang pertama aku lihat pada saat aku bangun adalah, muka bete Runi. “Kenapa, Run?” tanyaku. “Ah, nggak. Biasa, mood swing.” Yeah, aku paham. Mood Runi memang suka berubah-ubah, dengan cepat. Dasar remaja labil.
Istirahat. Akhirnya, pelajaran Fisika ini berakhir. Huh, saatnya mendinginkan otak. Let’s go to canteen. Aku dan delapan orang murid cewek lainnya pergi ke kantin bersama –kebiasaan kita, memang.
Anak-anak mulai berpisah, mereka pergi memesan makanan dan minuman yang bervariasi di stand-stand makanan dan minuman. Aku dan Vio, singgah beberapa menit di stand aneka jus. Aku memesan minuman kesukaanku, jus stroberi. Dan Vio, dia memesan campuran beberapa buah dan diblender jadi satu. Eww, entahlah bagaimana rasanya.
“Eh Nar, kapan nih kita ngerjain tugasnya bareng-bareng?” Tiba-tiba seorang cowok berkulit sawo matang dan sepantaran denganku, menghampiri kami. Hadi! Aku kaget, bagaimana ceritanya tiba-tiba Hadi bisa nyamperin dan mengajak aku ngomong duluan. Aku speechless.
“Hah?!” Aku panik dan hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. “Ih, kamu sih tidur tadi. Kalian kan sekelompok sosiologi, aku yang undi kok.” Vio agak sewot. “Sabtu aja deh pulang sekolah.” Aku asal ngomong, padahal aku masih tidak mengerti aku terlibat apa. “Sabtu? Pulang sekolah? Libur, Dinar...” Hadi mengoreksiku diikuti dengan suara cekikikan Vio. Aku merasa bodoh, konyol dan idiot, aku malu. Aaaa tidaaaak.
“Kamis aja yuk.” Lanjut Hadi. Aku mengangguk dan tidak berani mengeluarkan sepatah kata lagi. Demi apapun, aku takut aku salah ngomong. “Sip.” Kemudian Hadi pergi. Huh, finally.
Oiya, Hadi itu nama cowok anteng yang aku ceritakan tadi. Oh tidak, bagaimana aku bisa sekelompok dengan dia? Mengapa aku ketiduran? Dan mengapa ketika dia menghampiri aku aku bisa speechless begitu? Dinar, apakah kamu mulai begér’?
Oke, say no to galau. Kamu remaja, kamu normal.
***
Aku dan Runi sedang ada di Café Le Bistrot –yang menyediakan makanan khas Perancis, yang berada di sebelah tempat lesku dengan Runi. Tumben-tumbenan sepulang les Bahasa Perancis Runi mengajakku makan dulu. Bukan apa-apa, di kafe ini makanan dan minuman yang dijualnya memang mahal.
“Nar, mau cerita.” Ujar Runi. Oh, jadi itu sebabnya, Runi ingin curhat padaku. Sambil mengaduk minumannya, terlihat Runi sedang berfikir. “Kamu pernah ngeceng anak cowok di kelas nggak?” Deg. Namanya langsung terlintas di otakku. Seseorang yang begitu eye-catching di kelas. “Nggak kayaknya.”Aku berbohong. Hah, berbohong? Iya sepertinya aku berbohong.
Kemudian Runi melanjutkan ceritanya, “Nar, aku baru jadian.” “What? Seriously?! Why don’t you tell me?”Aku kaget dan sangat penasaran siapa pacar barunya Runi.
***
Aku tiba di kamarku sekarang, tatanan rapi dan juga dinding yang berwarna hijau toska kini menjadi temanku. Aku mengambrukkan diriku di kasur yang diselimuti oleh sprei berwarna dasar biru langit. Huh, rasanya jleb, ya. Kupasang headphone, kupilih lagu di i-Pod, tak seperti biasanya aku memutar lagu Cherrybelle – Dilema. Kau harus dengarkan sendiri lagu ini, mungkin terdengar alay, namun lagu alay inilah yang sedang cocok menggambarkan suasana hatiku.
Sepertinya love story-ku tidak seindah novel-novel teenlit yang sering aku baca. Yang penting, aku tahu aku normal. Aku dapat jatuh cinta, walaupun kepada kekasih sahabatku. [ ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar