Kamis, 26 Desember 2013

Thank God It's Tuesday

Guys, aku mau share cerpen lagi nih, judulnya "Thank God It's Tuesday". Cerpen ini aku share soalnya aku pengen cerita sesuatu di post mendatang something about tuesday.
Cerpen ini dibikin hampir bersamaan dengan "Dilema". Check this out!

---
Thank God It’s Tuesday
oleh:Dinda Ayu Rahmi
“Selamat Hari Selasa!” Seketika mukaku kusut saat Vanessa membukakan pintu mobilnya dari dalam. “Arrgh... Kenapa sih, kamu harus ngingetin aku kalau hari ini tuh Selasa?” Aku mengambil posisi di sisi Nessa, di kursi belakang, kemudian menutup pintu. Bang Joni, supir Nessa hanya tersenyum-senyum melihat rutinitas kami hampir di setiap Hari Selasa –Nessa yang meledekku dan kemudian raut wajahku yang akan terlihat bete.
Dan aku heran, mengapa virus ‘I Hate Tuesday’ ini tak dapat juga disembuhkan setelah sekian tahun?
***
Aku benci Selasa, aku tersugesti bahwa Selasa adalah hari kesialanku. Bukan satu atau dua kali Selasa aku merasakan kesialan. Hampir, hampir setiap Selasa ada saja yang menjengkelkan buatku. Aku sudah berusaha mengisi hari Selasa pagiku dengan pikiran-pikiran positif. Tapi, semenjak aku dan Miley sering berangkat bersama, setiap Selasa inilah aku lebih sering bete. Miley sering memancing semua itu.
Aneh ya aku, orang-orang biasanya tidak suka dengan Hari Senin. Karena Hari Senin adalah pertanda bahwa liburan berakhir, waktu bermalas-malasan habis, dan sebagainya deh pokoknya, aku tidak mengerti sudut pandang mereka.
Mungkin semua orang tak akan mengerti mengapa aku sangat tidak suka pada Hari Selasa, orang-orang pasti akan menganggapku berlebihan, sebab Selasa yang tak berdosa ini malah aku benci.
Pernah suatu ketika, aku sedang dalam kompetisi sains. Aku sudah super percaya diri untuk memenangkannya. Hm, setidaknya juara dua atau tiga. Tapi aku kecewa, aku sama sekali tidak juara. Dan tiba-tiba aku ingat, hari itu adalah Selasa.
Selalu kuluapkan kekesalanku pada Miley. Ya, seusai kompetisi itu saja aku langsung caw ke rumah Miley. Aku lampiaskan, dan tanggapan Miley adalah, “Happy Tuesday, Diana.” sambil tersenyum. Entah meledek, atau berusaha menenangkan hatiku.
            Miley merupakan pendengar yang baik, ia selalu dapat menghiburku kala aku bete, khususnya jika karena Hari Selasa yang super moodbreaker. Mungkin Miley bosan, tapi dia tidak pernah menunjukkan itu padaku. Dia akan tetap setia mendengarkanku.
            Hari Selasa yang paling menyebalkan untukku adalah, ketika Ujian Nasional. Mata pelajaran yang diujikan kali itu adalah matematika, salah satu mata pelajaran yang memberikan kesempatan besar untuk mendapatkan nilai sepuluh.
            Ketika mobil Miley tiba di depan rumahku, aku lihat Miley sedang sibuk mengerjakan soal matematika. Aku masuk saja ke mobilnya kemudian melakukan hal yang sama dengannya. Tak ada sedikitpun komentar Miley mengenai Hari Selasa. Aku sendiri ingat bahwa hari ini adalah Selasa, tapi aku tidak ingin mengungkitnya.
            Tiba-tiba Miley menanyakan padaku sebuah soal, “Na, yang ini bagaimana sih?” Kuambil buku Miley, kuamati soalnya. Asing. Tergambar sebuah segitiga yang lumayan rumit. “Ah, yang ini nggak pernah keluar pas pemantapan, gak akan ada deh di soal ujian nanti. Udah, tenang saja.” Ujarku pada Miley, dan terlihat Miley setuju padaku.
            Sialnya, ternyata soal itu muncul di ujian! Ah, menyesal aku meremehkan hal itu. Kurasakan diriku dan Miley melakukan sebuah telepati ketika melihat soal itu. Oh Miley, soal ini muncul! Aku nge-blank. Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan soal yang ini. Ya, masalahku pada ujian ini adalah soal yang ini saja. Alhamdulillah soal yang lain telah kukerjakan dengan sempurna. Kuputuskan untuk menembak jawaban.
            Seusai ujian, aku dan teman-teman saling menyamakan jawaban. Teman-teman membahas masalah yang sama mengenai soal itu. Jelas saja itu masalah, soal itu tidak pernah muncul di soal-soal ujian nasional tahun-tahun sebelumnya. Aku ingat, aku menjawab apa untuk soal itu, aku sangat berharap kali itu aku hoki. Yang bikin aku panik adalah, jawabanku dan Miley beda! Aku tidak tahu apakah Miley mengasal atau tidak.
            Guru matematikaku datang kala itu. Terlihat guruku juga telah mencoba mengerjakan soal-soal ujian tadi. Teman-temanku langsung menghampiri guruku dan menanyakan mana jawaban yang benar. Aku tidak mau dengar! Tapi aku mendengarnya, jawaban Miley benar. Milikku salah. Huh, hilang sudah kesempatanku mendapatkan nilai sempurna.
            Kupalingkan wajahku, tak berani melihat siapa-siapa lagi. Bete, bete, bete! Kulihat Miley melihatku. Mataku sudah berkaca-kaca. Terlihat sekali aku akan menangis. Aku tidak mau seorangpun melihat aku menangis. Aku merasa cupu, masa karena ini saja aku menangis. Aku menahan air mataku sebisanya.
            Ketika memasukki mobil Miley, aku sudah tidak bisa membendung airmataku lagi. Kupeluk Miley, kemudian aku menangis di pundaknya. Miley memelukku dengan erat, dan perlahan tangisanku mulai mereda. Kulihat baju seragam Miley basah, akupun malu. Aaa Miley, maafkan aku.
            ***
            Dan kini Miley telah tiada. Eh bukan, bukan telah tiada yang itu, telah tiada yang aku maksud adalah dia sudah tidak berada di kota yang sama denganku. Hm, bukan kota deh, kami sudah beda negara sekarang. Sedikit iri ya, dia dibawa orang tuanya ke Paris, kota idaman kami.
            Tapi kita masih bisa bertukar e-mail, BlackBerry Messenger-an, Twitteran, dan sebagainya. Aku dan Miley tak pernah hilang kontak. Suatu ketika, aku lihat sebuah e-mail dari Miley.
         From: Miley_frost@live.com
            Subject: Miss ya :(
         Dear Diana, 
         Salut! Ça va bien?
            Great, Miley sudah mulai menggunakan Bahasa Perancis, untung saja bagian yang ini aku mengerti, kurang lebih artinya, “Halo! kamu baik-baik saja?”. Kemudian aku melanjutkan membaca.
          I miss you so much Diana, Paris memang menyenangkan, tapi aku sangat kangen Jakarta. Tak ada kota yang paling menyimpan memori buatku, hanya Jakarta. Karena di sana aku mempunyai kamu, seorang sahabat yang membuatku merasa berarti.
         Menyenangkan, tapi membosankan. Itu yang sedang aku alami. Orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, dan di apartemen ini anak-anak seumuranku jarang sekali yang mau bersosialisasi. Disaat-saat inilah aku sangat merindukanmu.    
            Aku senyam-senyum sendiri membaca e-mail dari Miley. Yang Miley rasakan, persis sekali denganku, kangen tingkat akut.
         Oiya, aku mau cerita tentang ‘La tour Eiffel’. Aku sudah naik ke puncaknya, and it was awesome, kulihat city light Paris yang begitu indah. Aku lampirkan ya fotonya :P
         Mileeeeeeey! Kamu itu, bikin aku iri banget sih. Pengen ke Eiffel, pengen lihat Sungai Sein juga.
         Satu lagi. Really wanna ask you something, do ya still hate Tuesdays? I hate Tuesdays now. Tau gak kenapa? Selasa itu nyebelin banget. Selalu bikin aku pengen ketemu kamu. Pokoknya, bikin kangen aku parah banget deh. Aaaa bete T_T.
         Sudah saja, sekian. Kamu cepet-cepet nyusul aku ke Paris ya, ayo kita lalui setiap hari bersama lagi. A bien tôt J
            ***
            Fix. Aku kangen Miley, aku kangen kenangan kita. Aku pengen ketemu dia. Aaa.
            Tapi aku terjebak di Ibukota Provinsi Jawa Barat, Bandung. Nggak beda jauh sama Miley sih, anggap saja kita sama-sama di Paris, tapi aku di Paris van Java. Aku kini bersekolah di Bandung, satu kota di Indonesia yang sering dibanding-bandingkan dengan ibu kota Perancis tersebut.
            Teman sekelasku ada yang sangat mengingatkanku pada Miley, namanya Vanessa. Vanessa senang sekali mem-bully-ku setiap hari Selasa. “Ngebully kamu tuh ngasih kepusan batin maksimal tau.” Ujar dia suatu ketika. Dan aku? Pasrah! Ya, aku pasrah. Puas?
            Tapi lama-lama di­-bully Vanessa sudah tidak menyimpan efek apapun lagi denganku. Tapi aku mencoba untuk membuat dia puas ketika mem-bully aku. Setidaknya, aku tahu dia senang, bukan?
            Satu lagi, hal yang selalu aku pertanyakan. Mungkinkah aku akan mendapatkan kenangan-kenangan tak terlupakan dengan Vanessa setiap Selasa? Adakah orang yang dapat membuatku lebih bete di hari Selasa dibandingkan jika ketika bersama Miley dulu? I dunno, but one thing I believe: Miley is irreplacable.
            And I believe it either, I will get much more adventures. Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday? Semua bisa. Setiap hari sama saja.  
            Bon Mardi. :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar