Cerpen ini dibikin hampir bersamaan dengan "Dilema". Check this out!
---
Thank God It’s Tuesday
oleh:Dinda Ayu Rahmi
oleh:Dinda Ayu Rahmi
“Selamat Hari Selasa!” Seketika mukaku kusut saat Vanessa
membukakan pintu mobilnya dari dalam. “Arrgh... Kenapa sih, kamu harus ngingetin aku
kalau hari ini tuh Selasa?” Aku
mengambil posisi di sisi Nessa, di kursi belakang, kemudian menutup pintu. Bang
Joni, supir Nessa hanya tersenyum-senyum melihat rutinitas kami hampir di setiap
Hari Selasa –Nessa yang meledekku dan kemudian raut wajahku yang akan terlihat bete.
Dan aku heran, mengapa virus ‘I Hate Tuesday’ ini tak dapat juga disembuhkan setelah sekian
tahun?
***
Aku benci Selasa, aku tersugesti bahwa Selasa adalah hari
kesialanku. Bukan satu atau dua kali Selasa aku merasakan kesialan. Hampir,
hampir setiap Selasa ada saja yang menjengkelkan buatku. Aku sudah berusaha
mengisi hari Selasa pagiku dengan pikiran-pikiran positif. Tapi, semenjak aku
dan Miley sering berangkat bersama, setiap Selasa inilah aku lebih sering bete. Miley sering memancing semua itu.
Aneh ya aku, orang-orang biasanya tidak suka dengan Hari
Senin. Karena Hari Senin adalah pertanda bahwa liburan berakhir, waktu
bermalas-malasan habis, dan sebagainya deh
pokoknya, aku tidak mengerti
sudut pandang mereka.
Mungkin semua orang tak akan mengerti mengapa aku sangat
tidak suka pada Hari Selasa, orang-orang pasti akan menganggapku berlebihan,
sebab Selasa yang tak berdosa ini malah aku benci.
Pernah suatu ketika, aku sedang dalam kompetisi sains.
Aku sudah super percaya diri untuk memenangkannya. Hm, setidaknya juara dua
atau tiga. Tapi aku kecewa, aku sama sekali tidak juara. Dan tiba-tiba aku
ingat, hari itu adalah Selasa.
Selalu kuluapkan kekesalanku pada Miley. Ya, seusai
kompetisi itu saja aku langsung caw ke
rumah Miley. Aku lampiaskan, dan tanggapan Miley adalah, “Happy Tuesday, Diana.” sambil tersenyum. Entah meledek, atau berusaha
menenangkan hatiku.
Miley
merupakan pendengar yang baik, ia selalu dapat menghiburku kala aku bete, khususnya jika karena Hari Selasa
yang super moodbreaker. Mungkin Miley
bosan, tapi dia tidak pernah menunjukkan itu padaku. Dia akan tetap setia mendengarkanku.
Hari
Selasa yang paling menyebalkan untukku adalah, ketika Ujian Nasional. Mata
pelajaran yang diujikan kali itu adalah matematika, salah satu mata pelajaran
yang memberikan kesempatan besar untuk mendapatkan nilai sepuluh.
Ketika
mobil Miley tiba di depan rumahku, aku lihat Miley sedang sibuk mengerjakan
soal matematika. Aku masuk saja ke mobilnya kemudian melakukan hal yang sama
dengannya. Tak ada sedikitpun komentar Miley mengenai Hari Selasa. Aku sendiri
ingat bahwa hari ini adalah Selasa, tapi aku tidak ingin mengungkitnya.
Tiba-tiba
Miley menanyakan padaku sebuah soal, “Na, yang ini bagaimana sih?” Kuambil buku
Miley, kuamati soalnya. Asing. Tergambar sebuah segitiga yang lumayan rumit.
“Ah, yang ini nggak pernah keluar pas
pemantapan, gak akan ada deh di soal ujian nanti. Udah, tenang
saja.” Ujarku pada Miley, dan terlihat Miley setuju padaku.
Sialnya,
ternyata soal itu muncul di ujian! Ah, menyesal aku meremehkan hal itu. Kurasakan
diriku dan Miley melakukan sebuah telepati ketika melihat soal itu. Oh Miley,
soal ini muncul! Aku nge-blank. Aku
tidak tahu bagaimana menyelesaikan soal yang ini. Ya, masalahku pada ujian ini
adalah soal yang ini saja. Alhamdulillah soal
yang lain telah kukerjakan dengan sempurna. Kuputuskan untuk menembak jawaban.
Seusai
ujian, aku dan teman-teman saling menyamakan jawaban. Teman-teman membahas
masalah yang sama mengenai soal itu. Jelas saja itu masalah, soal itu tidak
pernah muncul di soal-soal ujian nasional tahun-tahun sebelumnya. Aku ingat,
aku menjawab apa untuk soal itu, aku sangat berharap kali itu aku hoki. Yang bikin aku panik adalah, jawabanku dan Miley beda! Aku tidak tahu
apakah Miley mengasal atau tidak.
Guru
matematikaku datang kala itu. Terlihat guruku juga telah mencoba mengerjakan
soal-soal ujian tadi. Teman-temanku langsung menghampiri guruku dan menanyakan
mana jawaban yang benar. Aku tidak mau dengar! Tapi aku mendengarnya, jawaban
Miley benar. Milikku salah. Huh,
hilang sudah kesempatanku mendapatkan nilai sempurna.
Kupalingkan
wajahku, tak berani melihat siapa-siapa lagi. Bete, bete, bete! Kulihat Miley melihatku. Mataku sudah
berkaca-kaca. Terlihat sekali aku akan menangis. Aku tidak mau seorangpun
melihat aku menangis. Aku merasa cupu,
masa karena ini saja aku menangis. Aku menahan air mataku sebisanya.
Ketika
memasukki mobil Miley, aku sudah tidak bisa membendung airmataku lagi. Kupeluk
Miley, kemudian aku menangis di pundaknya. Miley memelukku dengan erat, dan
perlahan tangisanku mulai mereda. Kulihat baju seragam Miley basah, akupun
malu. Aaa Miley, maafkan aku.
***
Dan kini
Miley telah tiada. Eh bukan, bukan telah tiada yang itu, telah tiada yang aku
maksud adalah dia sudah tidak berada di kota yang sama denganku. Hm, bukan kota
deh, kami sudah beda negara sekarang.
Sedikit iri ya, dia dibawa orang tuanya ke Paris, kota idaman kami.
Tapi
kita masih bisa bertukar e-mail, BlackBerry Messenger-an, Twitteran, dan sebagainya. Aku dan Miley
tak pernah hilang kontak. Suatu ketika, aku lihat sebuah e-mail dari Miley.
From: Miley_frost@live.com
From: Miley_frost@live.com
Subject: Miss ya :(
Dear Diana,
Salut! Ça va bien?
Great, Miley sudah mulai menggunakan
Bahasa Perancis, untung saja bagian yang ini aku mengerti, kurang lebih
artinya, “Halo! kamu baik-baik saja?”.
Kemudian aku melanjutkan membaca.
I miss you so much Diana, Paris memang
menyenangkan, tapi aku sangat kangen Jakarta. Tak ada kota yang paling
menyimpan memori buatku, hanya Jakarta. Karena di sana aku mempunyai kamu,
seorang sahabat yang membuatku merasa berarti.
Menyenangkan, tapi membosankan. Itu
yang sedang aku alami. Orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, dan di
apartemen ini anak-anak seumuranku jarang sekali yang mau bersosialisasi.
Disaat-saat inilah aku sangat merindukanmu.
Aku
senyam-senyum sendiri membaca e-mail dari Miley. Yang Miley rasakan, persis
sekali denganku, kangen tingkat akut.
Oiya, aku mau cerita tentang ‘La tour
Eiffel’. Aku sudah naik ke puncaknya, and
it was awesome, kulihat city light Paris yang begitu indah. Aku lampirkan ya
fotonya :P
Mileeeeeeey! Kamu itu,
bikin aku iri banget sih. Pengen ke Eiffel, pengen lihat Sungai Sein juga.
Satu lagi. Really wanna ask you something,
do ya still hate Tuesdays? I hate Tuesdays now. Tau gak kenapa? Selasa itu
nyebelin banget. Selalu bikin aku pengen ketemu kamu. Pokoknya, bikin kangen
aku parah banget deh. Aaaa bete T_T.
Sudah saja, sekian. Kamu cepet-cepet
nyusul aku ke Paris ya, ayo kita lalui setiap hari bersama lagi. A bien tôt J
***
Fix. Aku kangen
Miley, aku kangen kenangan kita. Aku pengen ketemu dia. Aaa.
Tapi aku terjebak di Ibukota Provinsi Jawa Barat,
Bandung. Nggak beda jauh sama Miley
sih, anggap saja kita sama-sama di Paris, tapi aku di Paris van Java. Aku kini bersekolah di Bandung, satu kota di
Indonesia yang sering dibanding-bandingkan dengan ibu kota Perancis tersebut.
Teman sekelasku ada yang sangat mengingatkanku pada
Miley, namanya Vanessa. Vanessa senang sekali mem-bully-ku setiap hari Selasa. “Ngebully
kamu tuh ngasih kepusan batin
maksimal tau.” Ujar dia suatu ketika. Dan aku? Pasrah! Ya, aku pasrah. Puas?
Tapi lama-lama di-bully
Vanessa sudah tidak menyimpan efek apapun lagi denganku. Tapi aku mencoba
untuk membuat dia puas ketika mem-bully aku.
Setidaknya, aku tahu dia senang, bukan?
Satu lagi, hal yang selalu aku pertanyakan. Mungkinkah
aku akan mendapatkan kenangan-kenangan tak terlupakan dengan Vanessa setiap
Selasa? Adakah orang yang dapat membuatku lebih bete di hari Selasa dibandingkan jika ketika bersama Miley dulu? I dunno, but one thing I believe: Miley is
irreplacable.
And I
believe it either, I will get much more adventures. Sunday, Monday, Tuesday,
Wednesday, Thursday, Friday, Saturday? Semua bisa. Setiap hari
sama saja.
Bon
Mardi. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar